Aceh, 2008

Ayo kita nulis lagi! Tentunya untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog periode Februari 2022.

Tema kali ini adalah tentang ‘Pengalaman Travel Berkesan‘. Menuliskan tentang hal tersebut akan sangat menantang bagi saya. Pasalnya saya sebenarnya senang jalan-jalan, tapi dengan adanya tantangan ini saya baru sadar kalau saya tidak memiliki dokumentasi yang memadai di setiap perjalanan saya. Masalah selanjutnya adalah: ternyata saya merasa semua perjalanan saya itu berkesan, jadi bingung pilih yang mana. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan pengalaman saya menjelajahi Banda Aceh dan Aceh Besar

Jelajah Banda Aceh dan Aceh Besar

Jalan-jalan menjelajahi wilayah Banda Aceh ini terjadi 2008, pertama kali saya diajak ke lapangan untuk salah satu proyek terkait rehabilitasi lingkungan pasca bencana tsunami 2004. Saya dipercaya untuk menjadi koordinator tim lapangan dengan tujuan utama mengambil sampel untuk melihat kualitas air permukaan, air sumur, tanah dan udara. Saat itu saya bolak balik 3 kali ke daerah tersebut, karena harus mengambil sampel pada musim berbeda. Tentu saja perjalanan ini berkesan, saya yang biasanya anak rumahan, kalaupun jalan-jalan selalu bersama keluarga atau teman, tiba-tiba harus berangkat bersama orang-orang yang belum terlalu saya kenal dekat.

Cooler Box untuk menempatkan sampel, sebagian barang yang kami bawa dari Bandung

Ada puluhan titik lokasi pengambilan sampel, oleh karena itulah saya punya kesempatan menjelajahi wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar, mulai dari daerah pantai paling utara di Ulee Lheue, Lampuuk, Lhok Nga, sampai daerah agak selatan yang merupakan pegunungan di Jantho. Perjalanan cukup memakan waktu, biasanya kami berangkat jam 8 pagi dari markas dan kembali lagi menjelang magrib. Kami menggunakan mobil double cabin 4WD karena harus membawa perlengkapan sampling yang cukup banyak dan terkadang harus menempuh jalur off road. Seperti itulah setiap hari, selama sekitar 2 minggu. Tentunya sebelum sampling kami harus melakukan persiapan dan setelahnya ada beberapa analisis lab yang harus kami lakukan hari itu juga. Lelah! Tapi buat saya waktu itu sangat menyenangkan.

Wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar

Perjalanan saat itu lengkap sekali, saya bisa melihat pantai, sungai, perkotaan, perkampungan, sawah, savana, sampai hutan. Cuaca yang panas, tidak menjadi masalah untuk melakukan sampling, karena kita bisa menghirup udara yang bersih, napas rasanya ringan, rasanya sangat berbeda dengan kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung.

Alam Indonesia itu indah, termasuk Aceh sangat berwarna. Hijau untuk hamparan sawah yang luas, biru untuk warna lautan tak bertepi, savana kecoklatan dengan sapi sapi yang dibiarkan bebas, bahkan kita bisa melihat sehamparan eceng gondok liar dengan warna hijau yang kontras dengan bunganya yang ungu. Cantik! Aceh alamnya masih asli, belum banyak area terbangun. Ketika di aceh, menyenangkan sekali melihat ke sekeliling. Rasanya luas sekali, bikin agak linglung ketika kembali ke Bandung kiri-kanan mentok😁.

Suasana Kota Banda Aceh, menurut saya mirip kota-kota masa kecil saya di Sumatra Barat dan Riau, membuat saya sedikit bernostalgia. Kotanya tidak sepadat dan seramai Bandung tentunya. Biasanya pertokoan sudah mulai sepi menjelang magrib, yang ramai hanyalah kedai kopi dan beberapa pujasera yang katanya buka hampir 24 jam. Hal ini cukup membuat kami kesulitan apabila ada kebutuhan mendadak, misalnya membeli obat, toiletries, camilan, air minum tambahan, dll, karena waktu bebas kami hanyalah sebelum dan setelah pekerjaan usai. Terpaksa kenbutuhan tersebut harus dipenuhi saat kami libur yaitu Sabtu dan Minggu.

Kuliner Aceh

Orang Aceh, terkenal sangat senang berada di kedai kopi, konon katanya banyak pembicaraan-pembicaraan penting dan keputusan- keputusan besar yang terjadi di kedai kopi. Sayang, waktu itu saya belum jadi peminum kopi, jadi belum pernah merasakan meminum kopi aceh di tempat aslinya. Padahal katanya rasa kopinya enak dan sangat khas, tidak bisa didapatkan di luar Aceh. Setiap ke kedai kopi, biasanya saya hanya memesan roti dengan selai srikaya, selainya hangat dan fresh karena selalu baru dibuat, dan itu enaaaak sekali! Belum pernah menemukannya yang seenak itu di tempat lain. Biasanya kami ke kedai kopi untuk sarapan.

Untuk makan siang selama sampling, biasanya kami berhenti di kedai-kedai pinggir jalan, lokasinya tentu saja tergantung rute yang sedang dilewati, sedangkan untuk makan malam biasanya di sekitar hotel daerah Peunayong, di Kota Banda Aceh. Saya tidak rewel dengan makanan, Saya bisa-bisa saja memakan berbagai macam makanan dengan range rasa yang luas. Makanan Aceh menurut saya sangat lezat, bentuk makanannya mirip makanan di rumah makan padang, hanya saja untuk masakan Aceh ada satu rempah khas yang rasanya saya temui hampir di semua kedai yang saya datangi. Ntah apa itu, saya tidak berani bahas disini, karena biasanya kalau saya tanya kepada supir yang asli orang Aceh, mereka hanya tertawa-tawa mencurigakan. Mencurigakan! apakah memang menggunakan rempah yang ‘itu’? yang konon katanya memang rempah khas Aceh dan dipakai turun temurun? Hahah, tapi percayalah, makanannya enak! Beberapa makanan yang saya makan ketika di Aceh adalah Ayam Tangkap, Kari Kambing (di resto Pak Amad), Mie Aceh dengan kepiting utuh, Sayur dengan ikan kayu, Rendang (rasanya sedikit berbeda dengan Rendang Padang), dan sebagainya (sebenarnya sudah lupa). Semuanya Enak! – emang dasar tukang makan.

Jejak Tsunami

Saat perjalanan sampling, selain melihat alam aceh yang indah, terkadang ada kisah-kisah miris yang diceritakan oleh supir yang kebanyakan adalah orang asli Aceh. Terkadang memang kita melewati pemakaman masal, monumen-monumen peringatan yang mengingatkan pada peristiwa Tsunami 2004. Terkadang mereka secara spontan bercerita tentang kisah dirinya atau keluarganya, membuat saya terbayang-bayang Tsunami, karena saat itu pun Saya masih bisa melihat bekas-bekasnya.

Bekas-bekas bencana tersebut terlihat pada garis pantai yang berubah, masih ada kapal diatas perumahan (yang akhirnya dijadikan monumen), banyaknya bangunan-bangunan baru yang menandakan bahwa bangunan lamanya sudah rata dengan tanah. Saat sampling pun kami melihat adanya tanda-tanda bahwa air laut sempat masuk jauh ke daratan, ditandai dengan air sungai yang payau, dan di dalamnya terdapat ubur-ubur, padahal sungai tersebut termasuk jauh dari laut.

Di beberapa lokasi tempat saya mengambil sampel juga terdapat tugu peringatan Tsunami, tinggi tugu tersebut menandakan tinggi gelombang saat sampai ke lokasi itu. Saya sempat berfoto, walaupun dalam hati saya sebenarnya saya cukup bergetar melihatnya. Saya bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya saat kejadian bencana tsunami terjadi.

Tugu Tsunami, konon katanya tinggi tugu ini setinggi gelombang tsunami yang sampai pada tempat tersebut

Ada hal aneh, yang saya rasa tidak masuk di akal, yaitu bagaimana bisa sebuah mesjid tetap dapat berdiri tegak, padahal di sekelilingnya rata dengan tanah. Itulah kisah mengenai Masjid Rahmatullah di Lampuuk. Kebetulan saya juga harus mengambil sampel air sumur dan tanah disekitar mesjid tersebut, saya bisa melihat bahwa hampir semua bangunan di lokasi tersebut adalah bangunan baru, kecuali mesjidnya. Cukup merinding melihatnya, mungkin itu salah satu bukti kekuasaan Allah

Penutup

Jadi begitulah cerita saya mengenai perjalanan saya di Aceh. Termasuk salah satu perjalanan yang sangat berkesan karena banyak hal yang saya pelajari dalam perjalanan tersebut. Tidak mungkin saya dapat menceritakannya dalam satu kali posting, mungkin nanti akan saya ceritakan apabila ada kesempatan.

BTW, ternyata menyenangkan ya menuliskan pengalaman jalan-jalan, cukup memantik ide-ide tulisan untuk blog ini. Semoga terlaksana ya, hehe! Terima kasih kepada MGN yang membuat saya jadi pengen nulis lebih banyak lagi tentang pengalaman jalan-jalan saya.

21 thoughts on “Aceh, 2008

  1. Setiap mendengar kata ACEH, yang teringat adalah peristiwa tsunami, masjid Rahmatullah, kopi yang ada anggurnya, dan rempah β€˜itu’ (memakai bahasa Mba Dini), ehehehe.
    Trimakasih sudah membagikan cerita ini ya Mba. Dan ya, kuliner Aceh, saya juga sukaaa banget. Jaman dulu di Bandung, ada kedai Gampoeng Aceh, enak banget menu-menunya, namun sekarang sudah endak ada ya.

    Like

    1. Iyaa mbak Uril, sebelum ke aceh liat itu di berita2, ga pernah terbayang juga sih punya akan punya pengalaman lihat langsung bekas2nyaaa… Kalau tentang si rempah itu, baru ngeh pas disana πŸ˜‚

      Like

  2. wuah teh, samplingnya smpe ke ujung indonesia ya teh? anak sith ya teh? ngerti banget aku klo sampling-sampling gini. soalnya aku anak bio juga. seru ya teh sampling sambil jalan-jalan.

    Like

  3. Teh Dini, seru banget pengalaman ke Aceh-nya. Aku suka deh kerjaan gini, tapi sekarang ga pernah ke lapangan lagi, hanya di belakang monitor πŸ™‚

    Budaya warung kopi di Aceh emang khas banget ya, enakeun memang duduk-duduk gitu, cuman dulu pernah diceritain teman, kadang jadi masalah karena para bapak malah ga pulang ke rumah keasikan nongkrong, yang pasti kalau ada Starbucks di Aceh mungkin ga laku.

    Btw, ini info dari teman orang Aceh lainnya, mereka memang pakai ganja Teh, tapi kayanya beda jenis deh, memang ada ganja yang jadi herbs untuk masak, makanya lebih enak hehe

    Like

    1. Iyaa seru banget, sekarang sy sudah jarang juga sampling begitu, itu pas baru lulus s1 masih lajang blom ada buntut πŸ˜…

      Nah, itu dia rempahnya hihihihi, tp bukan daunnya sih, bagian dari biji/bunganya klo ga salah, belum sempat nanya detil juga

      Like

    1. Ayo teh, ke aceh… Skalian tanya ke kakaknya (panggilan ‘mbak’ disana) ‘ini pakai bumbu apa yaa? ‘ niscaya mereka cm senyum2 aj heuheu

      Like

  4. Aku padahal mau tanya, rasa kopinya gimana, ah sayang banget belum dirasakan di sana. Kalau roti oles sarikaya dan berbagai makanan lainnya bikin aku lapar pas membaca.
    Rempah yang itu emang benar loh katanya bikin segala makanan jadi enak, hehehehe

    Like

    1. Iya, sekarang sy suka kopi, jd suka kepikiran pengen coba, siapatau nanti kesana lagi 😁, pengen ke sabang, belum kesampaian.

      Iya makanannya enak banget, teman saya bahkan abis makan kari kambing ketiduran di mobil, padahal perjalanan masih panjang πŸ˜…

      Like

    1. Aamin teh, semoga kesampaian

      Jalan jalan dalam negri di Indonesia itu banyak banget yg bisa di eksplor, cuma biasanya jadi lebih mahal drpd wisata ke luar πŸ˜…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s